Saturday, 11 February 2017

Psssstttttttttttttt… (cerpen)

Oleh : Asih Purwanti

Matahari sudah membakar dirinya di ufuk timur, dengan kekuatan panasnya yang akan membuat semua makhluk di bumi ini merasa kegerahan, tapi tidak bagi seorang gadis belesteran Sunda-Belanda ini, dia dengan baju kurung panjangnya dan jilbab lebarnya meliuk-liuk dibuai sang angin menunggu bis, di tempat pemberhentian bis. Orang-orang yang berada disana merasa ada tontonan gratis, jarang sekali ada gadis cantik setengah bule memakai jilbab sambil menunggu bis ekonomi murah.
Gadis itu bernama Raihana Van braskamp, dia seorang mahasiswi jurusan sastra inggris di universitas ternama di kota kecilnya itu. 
“Hana!!!” panggil seorang gadis berpakaian sama menuju Raihana.
“Sarah? Ada apa?” tanya Raihana kaget melihat kedatangan sahabat baiknya itu.
“ada titipan dari Kak Ihsan, nih!” seru Sarah seraya memberikan amplop berwarna putih. Raihana segera mengambilnya dengan wajah sumringah.
“Terimakasih ya Sar” sahut Raihana lagi dengan pipinya yang tiba-tiba merona, Sarah hanya tersenyum melihat sahabat kentalnya yang sedang dilanda virus merah jambu itu.
***
Raihana membuka amplop putih yang bertuliskan for : Raihana itu dengan hati-hati dan jantung dag dig dug. Tatkala dahi Raihana bergelombang, kadang bibirnya mengulum senyum atau hidungnya kembang kempis menahan bait-bait terakhir isi surat itu. Setelah khatam membaca surat dari Ihsan, seorang ikhwan yang jadi tokoh utama di mimpi-mimpi Raihana. Akhirnya gadis belesteran itu hanya diam, bingung sambil sesekali menatap surat itu lekat.
“Han, gimana?” tanya Sarah, mengguncang bahu Raihana yang pikirannya melanglang buana ke negeri antah berantah itu. Raihana hanya menatap sahabatnya itu dengan mimik merana.
“Kenapa? Apa kak Ihsan menolak?” tanya Sarah lagi penasaran.
“Tidak Sarah, tapi..”    
“Tapi apa?”
“Kak Ihsan menerima dengan satu syarat”
“Syarat?”
“Ya, syarat yang sama sekali gak bisa aku terima..”

***
Sebelum ayahnya meminta Ihsan untuk menikahi Raihana, putri satu-satunya yang akhir-akhir ini dilanda susah makan, minum, belajar, bahkan menjalani aktivitas hiking kesukaannya itu, beliau mencoba mencari tahu penyebab hal putri kesayangannya itu menjadi seperti zombie kepada sahabat terdekat putrinya, Sarah.  Oleh Sarah, diceritakanlah penyebab muasal Raihana berkelakuan begitu, dikarenakan sahabatnya sedang dilanda virus merah hati, alias sedang Faling in love. Ayahnya kaget bukan main, tak menyangka putri manisnya itu diam-diam menyembunyikan perasaan cintanya kepada seorang pemuda. Sebelum putri cantiknya diperbudak oleh nafsu, ayahnya yang senantiasa dengan kasih dan sayangnya merawat dan membesarkan Raihana seorang diri itu untuk menemui pemuda yang sudah mengisi hati dan pikiran putri semata wayangnya itu.
Akhirnya pucuk dicinta ulampun tiba, ternyata si pemuda yang ternyata teman kampus putrinya itu menerima dengan senang hati, karena ternyata Ihsan, nama si pemuda itupun jatuh hati kepada putrinya. Setelah itu, terbitlah si ayah untuk mengadakan taaruf, sebelum acara itu, Ihsan menulis surat kepada Raihana dan dititipkan kepada sahabat terdekat calon istrinya itu.
***
Raihana duduk melamun di teras mesjid kampus yang putih itu, mencerna kata per kata isi surat dari Ihsan, sang pangeran yang selalu mengisi kisi-kisi hatinya.
“Hana, kok melamun?” tanya Sarah dan langsung duduk di dekat Raihana.
“Aku sedang memikirkan syarat itu Sar” jawab Raihana lesu, dahi Sarah berkerut, titik-titik air bekas wudhu masih menempel di sekitar alis lebatnya.
“Syarat yang ada di surat itu? memangnya Ihsan mensyaratkan apa padamu?” tanya Sarah.
“Dia…dia..” jawab Raihana terputus-putus.
“Ya dia apa?” desak Sarah penasaran.
“Dia memintaku untuk jangan makan jengkol…” tawa Sarah meledak, tapi segera dia tutup setelah melihat sahabatnya sejak kecil itu murung. Sarah berusaha meminta maaf dan hanya bisa mengusap bahu sahabatnya kasihan.
Sebenarnya sudah lumrah, bahwa Raihana yang cantik dan berkulit putih bagai pualam itu suka makan jengkol, makanan kesukaannya sejak dia duduk di bangku sekolah dasar. Awalnya Raihana menyukai makanan itu ketika mbok ijah, pembantunya sedang makan semur jengkol, Raihana yang baru pulang liburan dari negeri Paman Sam itu melongo melihat pembantunya makan dengan lahap semur sumber bau itu tanpa sudi menoleh anak majikannya yang asyik menahan air liurnya melihat santapan aneh bin ajaib itu. Tanpa sadar, Raihana kecil membawa sekepal nasi beserta semur jengkol menggunakan tangan kanannya dan memasukkannya ke mulutnya. Tak dinyana dia pun akhirnya ketagihan dengan lauk barunya yang tidak ditemukan di belahan bumi manapun selain di negeri gemah ripah loh jinawi ini, sampai sekarang makanan favorit Raihana adalah jengkol! Tanpa malu, saat sedang makan bersama sahabat-sahabatnya sesama aktivis kampus, dia membawa jengkol dan menghabiskannya tanpa sisa.
Ayahnya sempat melarang Raihana untuk tidak terlalu banyak makan jengkol, karena akan menimbulkan bau yang tidak sedap dihirup. Tapi raihana keukeuh tidak mau meninggalkan makanan kesukaannya barang sekejappun.
Tapi kali ini, dengan hati gulana dia meratapi hidupnya yang tidak akan makan jengkol lagi setelah dirinya nanti menikah dengan sang pujaan hati. Dia amat bingung, lalu pergilah dirinya ke sumber segala gelisah hatinya untuk menumpahkan segala keluh dan gelisahnya selama ini.
Sudah dua jam Raihana terpekur dalam sajadah bersulamkan gambar ka’bah itu, dia terus bermunajat kepada Sang Pencipta memohon petunjuk dari masalah peliknya ini.  Ayahnya yang sudah tahu perihal permasalahan yang melanda putrinya itupun hanya diam menatap kasihan kepadanya.
***
“Hana, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini” seru Sarah, saat Raihana ke rumahnya dan mencurahkan semua unek-uneknya kepada sahabat kepercayaannya itu.
“Tapi, Sar, aku…” potong Raihana, dia hanya terdiam sambil menekuk dagunya, seolah-olah dia tidak rela dua hal kesuakaannya yaitu calon suami dan jengkolnya harus dieliminasi salah satunya.
Tidak ada yang salah dengan hidungnya yang bangir, bibirnya yang ranum, bola matanya yang berwarna biru dan kulitnya yang indo itu, kaum hawa lainnya mungkin akan merasa iri melihat kecantikan alami dari sang gadis yang bukan buatan itu. Ditambah lagi dengan pakaiannya yang menutupi seluruh tubuh jenjangnya itu dengan gamis dan jilbab yang menunjukan kecantikan seorang Bidadari. Tak dinyana sang gadis yang kejelitaannya ternoda oleh hobinya yang senang sekali memakan jengkol, yang identik makanan tersebut dijauhi oleh sebagian kaum hawa itu. Tapi tidak bagi penikmat jengkol sejati seperti Raihana, dia seolah-olah tidak peduli pada makanan apapun selain jengkol.
Sahabat Raihana yang selalu setia menemani Raihana, sedih melihat kondisi sahabat tercintanya itu, Sarah selalu mendapati Raihana duduk melamun di teras mesjid atau di perpustakaan kampus. Dia berinisiatif untuk pergi ke psikolog guna mencari jalan keluar bagi sahabatnya yang dirundung nestapa.
Esoknya Sarah mengajak Raihana ke psikolog ternama, teman mamanya dr. Hanita namanya, dokter cantik itupun mendengarkan seluruh keluh kesah yang dialami anak dari sahabatnya itu dengan tatapan kasihan. Lalu dokter itupun menjawab dengan bijak “setiap manusia memiliki kegemaran yang berbeda-beda, ada yang menyukai makanan sayuran saja, adapula yang menyukai daging-dagingan atau ada juga yang amat menggemari jengkol seperti kamu. Tapi, kesukaan berlebihan itupun bisa kita lepaskan, salah satunya dengan upaya dan keyakinan yang kuat bahwa kita bisa melepaskan setidaknya bisa mengurangi kesukaan kita terhadap hal itu.”
Raihana yang semula seperti ogah-ogahan diajak ke psikologpun akhirnya mendengarkan dengan seksama. ‘dengan keyakinan dan upaya yang keras agar terbebas dari kegemaran yang nyeleneh itu.’ gumam Raihana, dokter itupun meyakinkan kalau Raihana pasti bisa menghentikan kegemaran gilanya akan jengkol.
***
Selama tiga minggu, Raihana mencoba untuk tidak menyentuh, menyebut dan memakan makanan bernama jengkol lagi. Akhirnya gadis indo itu berhasil, berkat upaya dan keyakinan kuatnya itu.
Sarah sendiri sangat bahagia melihat keceriaan sahabatnya itu.
“Han, ayo! Sekarang kamu tulis surat ke ikhwan pujaanmu itu! katakan, bahwa sekarang kamu sudah tidak memakan jengkol lagi!” perintah Sarah, ketika mereka tengah berada di kamar Raihana. Gadis Indo itu hanya mengangguk sambil menjabat tangan sahabatnya itu erat. “Terimakasih Sarah, kamu udah bikin kepercayaan diri aku tumbuh lagi” kata Raihana lembut. Sarah hanya mengangguk sambil memamerkan senyum terindah untuk sahabatnya itu.
“Han, jangan lupa sertakan surat ini!” pinta Sarah seraya menyelipkan selembar surat berlogo rumah sakit.
“apa ini Sar?” tanya Raihana penasaran dengan surat yang diberikan Sarah kepadanya.
“itu surat pernyataan bahwa kamu sudah sembuh dari ketergantunganmu terhadap jengkol, aku minta ke dokter Hanita, supaya Ihsan percaya, bahwa calon istrinya ini sudah sembuh dari ketergantungan jengkol!” Sergah Sarah sambil memamerkan gigi-giginya yang putih dan rata itu. Raihana tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya memeluk sahabat tercintanya itu erat.

Tasikmalaya, Oktober 2007

NB : Ini cerpen pertama yang aku buat, saat itu aku tengah kelas 2 SMK. Banyak typonya dan banyak kalimat-kalimat yang kurang pas yah? haha....