Oleh : Asih Purwanti
Matahari
sudah membakar dirinya di ufuk timur, dengan kekuatan panasnya yang akan
membuat semua makhluk di bumi ini merasa kegerahan, tapi tidak bagi seorang
gadis belesteran Sunda-Belanda ini, dia dengan baju kurung panjangnya dan
jilbab lebarnya meliuk-liuk dibuai sang angin menunggu bis, di tempat pemberhentian
bis. Orang-orang yang berada disana merasa ada tontonan gratis, jarang sekali
ada gadis cantik setengah bule memakai jilbab sambil menunggu bis ekonomi murah.
Gadis
itu bernama Raihana Van braskamp, dia seorang mahasiswi jurusan sastra inggris
di universitas ternama di kota kecilnya itu.
“Hana!!!” panggil seorang gadis
berpakaian sama menuju Raihana.
“Sarah?
Ada apa?” tanya Raihana kaget melihat kedatangan sahabat baiknya itu.
“ada
titipan dari Kak Ihsan, nih!” seru Sarah seraya memberikan amplop berwarna
putih. Raihana segera mengambilnya dengan wajah sumringah.
“Terimakasih
ya Sar” sahut Raihana lagi dengan pipinya yang tiba-tiba merona, Sarah hanya
tersenyum melihat sahabat kentalnya yang sedang dilanda virus merah jambu itu.
***
Raihana
membuka amplop putih yang bertuliskan for : Raihana itu dengan hati-hati dan
jantung dag dig dug. Tatkala dahi Raihana bergelombang, kadang bibirnya
mengulum senyum atau hidungnya kembang kempis menahan bait-bait terakhir isi
surat itu. Setelah khatam membaca surat dari Ihsan, seorang ikhwan yang jadi
tokoh utama di mimpi-mimpi Raihana. Akhirnya gadis belesteran itu hanya diam, bingung
sambil sesekali menatap surat itu lekat.
“Han,
gimana?” tanya Sarah, mengguncang bahu Raihana yang pikirannya melanglang buana
ke negeri antah berantah itu. Raihana hanya menatap sahabatnya itu dengan mimik
merana.
“Kenapa?
Apa kak Ihsan menolak?” tanya Sarah lagi penasaran.
“Tidak
Sarah, tapi..”
“Tapi
apa?”
“Kak
Ihsan menerima dengan satu syarat”
“Syarat?”
“Ya,
syarat yang sama sekali gak bisa aku terima..”
***
Sebelum
ayahnya meminta Ihsan untuk menikahi Raihana, putri satu-satunya yang
akhir-akhir ini dilanda susah makan, minum, belajar, bahkan menjalani aktivitas
hiking kesukaannya itu, beliau mencoba mencari tahu penyebab hal putri
kesayangannya itu menjadi seperti zombie kepada sahabat terdekat putrinya,
Sarah. Oleh Sarah, diceritakanlah
penyebab muasal Raihana berkelakuan begitu, dikarenakan sahabatnya sedang
dilanda virus merah hati, alias sedang Faling in love. Ayahnya kaget bukan
main, tak menyangka putri manisnya itu diam-diam menyembunyikan perasaan
cintanya kepada seorang pemuda. Sebelum putri cantiknya diperbudak oleh nafsu,
ayahnya yang senantiasa dengan kasih dan sayangnya merawat dan membesarkan
Raihana seorang diri itu untuk menemui pemuda yang sudah mengisi hati dan
pikiran putri semata wayangnya itu.
Akhirnya
pucuk dicinta ulampun tiba, ternyata si pemuda yang ternyata teman kampus
putrinya itu menerima dengan senang hati, karena ternyata Ihsan, nama si pemuda
itupun jatuh hati kepada putrinya. Setelah itu, terbitlah si ayah untuk
mengadakan taaruf, sebelum acara itu, Ihsan menulis surat kepada Raihana dan
dititipkan kepada sahabat terdekat calon istrinya itu.
***
Raihana
duduk melamun di teras mesjid kampus yang putih itu, mencerna kata per kata isi
surat dari Ihsan, sang pangeran yang selalu mengisi kisi-kisi hatinya.
“Hana,
kok melamun?” tanya Sarah dan langsung duduk di dekat Raihana.
“Aku
sedang memikirkan syarat itu Sar” jawab Raihana lesu, dahi Sarah berkerut,
titik-titik air bekas wudhu masih menempel di sekitar alis lebatnya.
“Syarat
yang ada di surat itu? memangnya Ihsan mensyaratkan apa padamu?” tanya Sarah.
“Dia…dia..”
jawab Raihana terputus-putus.
“Ya
dia apa?” desak Sarah penasaran.
“Dia
memintaku untuk jangan makan jengkol…” tawa Sarah meledak, tapi segera dia
tutup setelah melihat sahabatnya sejak kecil itu murung. Sarah berusaha meminta
maaf dan hanya bisa mengusap bahu sahabatnya kasihan.
Sebenarnya
sudah lumrah, bahwa Raihana yang cantik dan berkulit putih bagai pualam itu
suka makan jengkol, makanan kesukaannya sejak dia duduk di bangku sekolah
dasar. Awalnya Raihana menyukai makanan itu ketika mbok ijah, pembantunya
sedang makan semur jengkol, Raihana yang baru pulang liburan dari negeri Paman
Sam itu melongo melihat pembantunya makan dengan lahap semur sumber bau itu
tanpa sudi menoleh anak majikannya yang asyik menahan air liurnya melihat
santapan aneh bin ajaib itu. Tanpa sadar, Raihana kecil membawa sekepal nasi
beserta semur jengkol menggunakan tangan kanannya dan memasukkannya ke
mulutnya. Tak dinyana dia pun akhirnya ketagihan dengan lauk barunya yang tidak
ditemukan di belahan bumi manapun selain di negeri gemah ripah loh jinawi ini,
sampai sekarang makanan favorit Raihana adalah jengkol! Tanpa malu, saat sedang
makan bersama sahabat-sahabatnya sesama aktivis kampus, dia membawa jengkol dan
menghabiskannya tanpa sisa.
Ayahnya
sempat melarang Raihana untuk tidak terlalu banyak makan jengkol, karena akan
menimbulkan bau yang tidak sedap dihirup. Tapi raihana keukeuh tidak mau
meninggalkan makanan kesukaannya barang sekejappun.
Tapi
kali ini, dengan hati gulana dia meratapi hidupnya yang tidak akan makan jengkol
lagi setelah dirinya nanti menikah dengan sang pujaan hati. Dia amat bingung, lalu
pergilah dirinya ke sumber segala gelisah hatinya untuk menumpahkan segala
keluh dan gelisahnya selama ini.
Sudah
dua jam Raihana terpekur dalam sajadah bersulamkan gambar ka’bah itu, dia terus
bermunajat kepada Sang Pencipta memohon petunjuk dari masalah peliknya
ini. Ayahnya yang sudah tahu perihal
permasalahan yang melanda putrinya itupun hanya diam menatap kasihan kepadanya.
***
“Hana,
tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini” seru Sarah, saat Raihana ke
rumahnya dan mencurahkan semua unek-uneknya kepada sahabat kepercayaannya itu.
“Tapi,
Sar, aku…” potong Raihana, dia hanya terdiam sambil menekuk dagunya,
seolah-olah dia tidak rela dua hal kesuakaannya yaitu calon suami dan
jengkolnya harus dieliminasi salah satunya.
Tidak
ada yang salah dengan hidungnya yang bangir, bibirnya yang ranum, bola matanya
yang berwarna biru dan kulitnya yang indo itu, kaum hawa lainnya mungkin akan
merasa iri melihat kecantikan alami dari sang gadis yang bukan buatan itu.
Ditambah lagi dengan pakaiannya yang menutupi seluruh tubuh jenjangnya itu
dengan gamis dan jilbab yang menunjukan kecantikan seorang Bidadari. Tak
dinyana sang gadis yang kejelitaannya ternoda oleh hobinya yang senang sekali
memakan jengkol, yang identik makanan tersebut dijauhi oleh sebagian kaum hawa itu. Tapi tidak bagi penikmat jengkol sejati seperti Raihana,
dia seolah-olah tidak peduli pada makanan apapun selain jengkol.
Sahabat
Raihana yang selalu setia menemani Raihana, sedih melihat kondisi sahabat
tercintanya itu, Sarah selalu mendapati Raihana duduk melamun di teras mesjid
atau di perpustakaan kampus. Dia berinisiatif untuk pergi ke psikolog guna mencari
jalan keluar bagi sahabatnya yang dirundung nestapa.
Esoknya
Sarah mengajak Raihana ke psikolog ternama, teman mamanya dr. Hanita namanya,
dokter cantik itupun mendengarkan seluruh keluh kesah yang dialami anak dari sahabatnya
itu dengan tatapan kasihan. Lalu dokter itupun menjawab dengan bijak “setiap
manusia memiliki kegemaran yang berbeda-beda, ada yang menyukai makanan sayuran saja, adapula yang menyukai daging-dagingan atau ada juga yang amat menggemari jengkol seperti kamu.
Tapi, kesukaan berlebihan itupun bisa kita lepaskan, salah satunya dengan upaya
dan keyakinan yang kuat bahwa kita bisa melepaskan setidaknya bisa mengurangi kesukaan kita terhadap hal itu.”
Raihana
yang semula seperti ogah-ogahan diajak ke psikologpun akhirnya mendengarkan
dengan seksama. ‘dengan keyakinan dan upaya yang keras agar terbebas dari
kegemaran yang nyeleneh itu.’ gumam Raihana, dokter itupun meyakinkan kalau Raihana
pasti bisa menghentikan kegemaran gilanya akan jengkol.
***
Selama
tiga minggu, Raihana mencoba untuk tidak menyentuh, menyebut dan memakan
makanan bernama jengkol lagi. Akhirnya gadis indo itu berhasil, berkat upaya
dan keyakinan kuatnya itu.
Sarah
sendiri sangat bahagia melihat keceriaan sahabatnya itu.
“Han,
ayo! Sekarang kamu tulis surat ke ikhwan pujaanmu itu! katakan, bahwa sekarang
kamu sudah tidak memakan jengkol lagi!” perintah Sarah, ketika mereka tengah
berada di kamar Raihana. Gadis Indo itu hanya mengangguk sambil menjabat tangan
sahabatnya itu erat. “Terimakasih Sarah, kamu udah bikin kepercayaan diri aku
tumbuh lagi” kata Raihana lembut. Sarah hanya mengangguk sambil memamerkan
senyum terindah untuk sahabatnya itu.
“Han,
jangan lupa sertakan surat ini!” pinta Sarah seraya menyelipkan selembar surat
berlogo rumah sakit.
“apa
ini Sar?” tanya Raihana penasaran dengan surat yang diberikan Sarah kepadanya.
“itu
surat pernyataan bahwa kamu sudah sembuh dari ketergantunganmu terhadap
jengkol, aku minta ke dokter Hanita, supaya Ihsan percaya, bahwa calon istrinya
ini sudah sembuh dari ketergantungan jengkol!” Sergah Sarah sambil memamerkan gigi-giginya yang putih
dan rata itu. Raihana tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya memeluk sahabat
tercintanya itu erat.
Tasikmalaya,
Oktober 2007
NB : Ini cerpen pertama yang aku buat, saat itu aku tengah kelas 2 SMK. Banyak typonya dan banyak kalimat-kalimat yang kurang pas yah? haha....
