Friday, 2 February 2018

Terimakasih IDN Times

iyakan.com
Sejak kecil aku tidak terlalu dekat dengan kedua orangtua, disamping keduanya juga bekerja. Justru aku sangat dekat dengan nenek (almh). Saat pulang sekolah setelah makan dan mengerjakan PR, aku sering duduk di sebelah nenek yang tengah asyik menonton film India. Terkadang, jika nenek bosan menonton film India yang aktornya itu-itu saja, (dulu aktor India Mitun adalah favoritnya) nenek selalu bercerita tentang dirinya waktu muda dulu, jamannya dimana Indonesia masih berada dalam jajahan Belanda dan Jepang. Saat itu nenek bercerita bagaimana dirinya dan beberapa saudara perempuannya yang lain harus memakai arang di wajah dan seluruh tubuhnya agar orang-orang Belanda maupun Jepang tidak menculiknya. Aku yang kala itu masih SD mendengarkan dengan seksama, sesekali pikiran mungilku melanglangbuana ke jaman itu. Di lain kesempatan, nenek juga
menceritakan beberapa dongeng, salah satunya dongeng Si Leungli yang membuatku menangis karena akhir ceritanya yang sad ending.

keluarga.com
Sejak saat itulah aku mulai gemar membaca, karena jarang dikasih uang jajan, aku meminjam buku cerita di perpustakaan sekolah. Pertama kali menginjakkan kaki di perpustakaan, saat itu kulihat ruangan perpustakaannya begitu kotor, terdapat dua rak buku yang sama-sama berdebu, sehingga membuatku yang kala itu kelas dua SD bersin-bersin. Tapi hal itu tidak membuat keinginanku goyah, dengan saputangan yang kuikatkan di permukaan hidung dan mulutku, aku mulai mencari buku cerita. Tidak lama, aku menemukan sebuah buku berjudul Si Jamin dan Si Johan, saat itu aku tidak terlalu fokus melihat siapa penulisnya, aku hanya fokus pada sampul buku tersebut yang menurutku kala itu menarik. Itu buku cerita pertamaku yang kutahu setelah dewasa merupakan karya Merari Siregar. 
Di rumah, aku menatap buku itu takjub dan terjadilah perkenalan formal diantara kami.
"Halo, namaku Asih, murid kelas dua SD dan tidak memiliki sahabat selain Si Boy, anjing peliharaan nenek dan Si Mawar, kucing angora yang masih kecil. Maukah kau menjadi sahabatku dalam suka maupun duka?" Namun tidak ada jawaban dari buku itu.
Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi seorang gadis yang biasa saja, cantik tidak jelek pun tidak. Kegemaran membacaku semakin menjadi-jadi, akupun mulai rajin menulis diary serta mencoba menulis beberapa cerpen dan puisi untuk aku kirim ke majalah dinding sekolah. Nenekku sudah berhenti mendongeng karena beliau telah meninggalkanku untuk selama-lamanya. Dan itu merupakan pukulan terberat bagiku.
Setelah lulus SMA, aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi karena tidak ada biaya, maka dengan berat hati akupun mulai mencari kerja. Pekerjaan pertamaku adalah menjadi karyawan toko buku dengan jam kerja hampir 13 jam tanpa ada pergantian shift. Aku sama sekali tidak mencintai pekerjaanku. Kegiatanku menulis masih tetap berjalan, aku sering menulis cerpen dan puisi namun aku belum berani mengirimkannya ke media.

biropsikologiinfo.com
Saat itu bulan puasa, aku jatuh sakit, kata dokter aku sakit demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit. Dalam keadaan sakit, aku merasa mungkin sudah saatnya aku menyusul nenek. Namun ternyata Tuhan masih memberiku kesempatan hidup, selang satu bulan akupun sembuh. Akhirnya aku mengambil keputusan terbesar dalam hidupku, aku resign dari pekerjaan yang sudah empat tahun aku geluti dan menjadi seorang penulis seperti impianku sejak kecil. hari-hari beratpun aku lalui dengan senyum, akupun rajin menulis cerpen baik itu dalam berbahasa sunda maupun Indonesia. Kebanyakan karyaku dimuat di media berbahasa sunda. Aku banyak berinteraksi dengan para penulis di media sosial FB, salah satu penulis Yadi Karyadipura mengenalkanku pada media online IDN Times.
idntimes.com
Awal-awal aku mengirimkan beberapa cerpen ke IDN Times di format Narasi, tidak perlu menunggu lama, cerpenku di publish di media tersebut. Aku semakin rajin menulis dan mengirimkan karya ke IDN Times, di IDN Times terdapat sistem poin yang membuatku semakin bersemangat untuk mengumpulkan poin sebanyak mungkin, karena poin tersebut bisa ditukarkan dengan uang lho! Beneran! Aku sudah beberapa kali membuktikannya. Aku menyesal kenapa baru tahu sekarang. Selain cerpen, aku juga menulis puluhan artikel, karena melihat jumlah viewernya yang tinggi dibanding dengan cerpen. Selain itu, karena terbiasa menulis setiap hari, kemampuan menulisku pun sedikit demi sedikit terasah. Aku juga jadi paham, kalau menjadi seorang penulis itu bukan hanya terpaku pada cerpen dan puisi saja, tapi harus bisa mengacu ke semua aspek menulis seperti artikel misalnya. Bagiku munculnya media online seperti IDN Times patut diacungi dua jempol, karena disamping bisa menjadi wadah untuk orang-orang yang suka menulis, juga bisa menjadi ladang mencari penghasilan juga. Selama dua bulan menjadi community writer, aku baru membuat 121 tulisan, meskipun tulisan yang di publish hanya 33 tulisan saja, tapi hal itu justru membuatku semakin bersemangat untuk membuat tulisan yang lebih baik lagi. Terima kasih IDN Times, terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk menuangkan karya. Sukses selalu untuk IDN Times tercinta.